26 November 2010,
Usia kemhamilanku sudah mencapai minggu ke 39, hasil pemeriksaan dokter pada minggu minggu sebelumnya, menyatakan bahwa letak plasenta (ari-ari) berada di bagian bawah dan ada di sebelah belakang. Dan pada pemeriksaan minggu ke 39 (26 November 2010) dokter menyatakan ari-ari telah mulai bergerak naik dan dokter pun sedikit memberikan angin segar bahwa ada kemungkinan aku bisa melahirkan secara normal.
27 November 2010,
Karena ingin mendapatkan kenyakinan yang lebih, kami pun pergi ke dokter lainnya untuk melakukan pemeriksaan lagi dan untuk mendapatkan pandangan dari dokter lain. Dari hasil pemeriksaan dokter tsb, (dokter yang ke 2), bahwa bayi berada pada posisi yang benar dan plasenta (ari-ari) memang berada di bagian bawah namun tidak menghalangi jalan keluar bayi. dan aku bisa melakukan persalinan secara normal. Hanya saja pada gambar USG didapati bahwa tali pusar melilit pada leher bayi dan ini perlu diwaspadai.
29 November 2010,
Kami mendatangi dokter yang lain, untuk mendapatkan pendapat dan sudut pandang dari dokter lain (dokter yang ke 3). dan dokter berpandangan sama dengan dokter sebelumnya. dan dokter juga menganjurkan untuk mencoba terlebih dahulu dengan persalinan normal.
29 November 2010 (sekitar pukul 23:00),
aku mulai merasakan mules dan nyeri pada bagian pinggang belakang.
30 november 2010,
Pagi hari saat bangun tidur, kusdari bahwa ada bercak darah pada pakaian dalamku dan kira kira satu setengah jam kemudian, muncul bercak darah lagi namun tidak sebanyak yang sebelumnya. Kami pun mulai panik dan mencoba menghubungi dokter. Dan pihak klinik memberikan penjelasan bahwa ini merupakan tanda-tanda persalinan serta nyeri pada perut dan pinggang merupakan kontraksi rahim. Namun dari selang waktu kontraksi yang berkisar antara 20 menit, diperkirakan bahwa kemungkinan persalinan baru akan terjadi 2 atau 3 hari lagi.
Karena kuatir, kami mendatangi dokter untuk melakukan pemeriksaan (kontrol). dan dokter mengatakan bahwa indikasi ini adalah wajar dan alami.
Karena kuatir, kami mendatangi dokter untuk melakukan pemeriksaan (kontrol). dan dokter mengatakan bahwa indikasi ini adalah wajar dan alami.
30 November 2010 (malam),
Selang waktu kontraksi semakin pendek menjadi sekitar 6-7 menit dan durasi kontrraksi bekisar antara 1 menit serta ditandai lagi dengan munculnya bercak darah namun jumlahnya sedikit.
1 – 3 Desember 2010,
Selang waktu kontraksi semakin hari semakin pendek hingga 4 menit dan durasi kontraksi semakin panjang hingga mencapai 2 menit namun tanda mengerasnya bagian pusar hanya sekitar 20-30 detik saja. Serta bercak darah berlendir semakin hari semakin sering dan semakin banyak.
4 Desember 2010,
Pengecekan dokter bahwa indikasi kontraksi dan bercak darah berlendir hingga saat ini masih normal dan belum ada tanda tanda pembukaan mulut vagina.
5 Desember 2010,
Pagi hari, mendadak selang waktu kontraksi hanya berkisar antara 2-4 menit. Segera suami membawa aku ke rumah sakit bersalin dan dengan percaya diri nya kami membawa juga semua perlengkapan untuk menyambut kelahiran anak kami. Sesampainya di rumah sakit dan melakukan pemeriksaan ternyata mulut vagina baru mulai terbuka kurang dari 1 cm.
Karena bidan mengatakan proses pembukaan hingga saat persalinan masih akan memakan waktu yang lama yakni bisa mencapai 1 atau 2 hari kedepan, maka dengan terpaksa kami harus kembali ke rumah lagi untuk menunggu saat itu tiba.
Karena bidan mengatakan proses pembukaan hingga saat persalinan masih akan memakan waktu yang lama yakni bisa mencapai 1 atau 2 hari kedepan, maka dengan terpaksa kami harus kembali ke rumah lagi untuk menunggu saat itu tiba.
Seharian saya sebentar sebentar merintih menahan sakit hingga tidak dapat melakukan aktivitas apapun dan hanya terbaring di tempat tidur.
6 Desember 2010 jam 2 pagi,
Bercak darah berlendir keluar lebih banyak dan selang waktu durasi yang rutin setiap 2-3 menit dengan durasi waktu kontraksi yang mencapai 1-2 menit. Namun perut dan bagian pusar belum mengeras seperti yang seharusnya. Namun saya merasakan ada desakan dari arah dalam perut seperti akan buang air kecil dan besar Sehingga membuat saya keluar masuk kamar mandi.
Percaya sekali lagi dengan firasat saya bahwa “inilah saatnya”, maka segera kami bergegas kembali ke rumah sakit lagi.
Percaya sekali lagi dengan firasat saya bahwa “inilah saatnya”, maka segera kami bergegas kembali ke rumah sakit lagi.
Mungkin karena saya sudah mulai terbiasa dengan rasa sakit, saya bahkan masih bisa turun tangga dan berjalan seperti tidak terjadi apa apa.
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.